Blog

Get informed about our latest news and events

Catatan Prof. Sri Mulato : SEJARAH SINGKAT KOPI

Sejarah manfaat tanaman kopi sebagai bahan pangan dan minuman mulai tercatat pada tahun 500an, sejak tanaman tersebut ditemukan pertama kalinya di dataran tinggi negara Ethiopia di Bagian Timur Benua Afrika. Bermula dari legenda Kaldi, si “penggembala” domba, yang mengklaim bahwa domba-domba peliharaannya berperilaku agresif setelah makan buah berwarna merah dari jenis tanaman semak. Kaldi kemudian juga membuktikan sendiri makan buah tersebut dan mendapatkan efek yang sama, seperti yang dialami oleh domba-dombanya.

Pada tahun 575an, “pasukan” Persia mengawali perjalanan kopi ke Yaman, setelah pasukan tersebut berhasil menaklukkan penguasa Ethiopia waktu itu. Tanaman kopi kemudian ditanam secara luas di Yaman. Kopi awalnya dikonsumsi dalam bentuk buah utuh dan bukan sebagai minuman. Buah kopi berikut bijinya ditumbuk [pounding], dibentuk menjadi bulatan-bulatan [mirip bakso] atau persegi dan disantap sebagai makanan. Sementara itu, Ali Bin Omar, seorang sufi dari Yaman, menjadikan rebusan kopi sebagai bahan baku obat penyakit kulit dan ramuan obat-obatan lainnya. Demikian juga, Abu Bakr Muhammad ibn Zakariya Al Razi, warga Arab yang berprofesi mirip dokter, menambahkan kopi ke dalam ramuan obat. Masyarakat Arab kemudian menjadikan kopi sebagai minuman populer yang disebut “qahwa” artinya minuman untuk mencegah rasa kantuk dan menambah kekuatan. Qahwa dibuat dengan cara merebus biji kopi di dalam sebuah panci. Penduduk Kota Mekah sangat menggemari larutan hasil rebusan biji kopi tersebut.

Pada tahun 1200an, penduduk Turki memperkenalkan seduhan kopi dengan teknik yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Biji kopi tidak langsung direbus, tetapi disangrai [digoreng tanpa minyak] terlebih dahulu dengan wajan sampai warnanya hitam [gosong]. Biji kopi sangrai kemudian ditumbuk sampai menjadi bubuk halus. Bubuk ini direbus dengan air sampai mendidih di dalam panci tembaga. Pada saat akan diminum, larutan seduhan kopi dituangkan ke dalam cangkir dan ampasnya tertinggal di dalam panci. Sajian ini di kemudian hari sangat populer dengan sebutan seduhan “Ibrik”. Teknik ini dianggap sebagai cikal bakal [embrio] dari perkembangan cara penyeduhan dan penyajian minuman kopi seperti yang dikenal saat ini.

Sejak saat itu, minum kopi Ibrik menyebar ke seluruh jazirah Arab sampai ke Mesir dan menjadi budaya yang melekat dengan kegiatan sehari-hari bangsa Arab. Kopi menjadi kebanggaan dan ikon bangsa Arab, maka kemudian disebut kopi Arabika. Dengan berbagai manfaat yang dimilikinya, kopi banyak mendatangkan keuntungan ekonomis bagi masyarakat Yaman dan menjadikan negara itu sebagai pusat perdagangan kopi di kawasan Timur Tengah. Bangsa Arab yang dikenal berprofesi sebagai “pedagang” menjajakan kopi ke seluruh wilayah semenanjung Arab termasuk ke wilayah Mekah yang banyak didatangi jemaah dari seluruh dunia. Perjalanan kopi ke bagian timur belahan dunia diawali pada akhir tahun 1600an oleh jemaah haji asal India.

Dalam waktu yang hampir bersamaan, pedagang asal Belanda membawa kopi ke Eropa. Beberapa ilmuwan Eropa mencoba untuk menanam kopi di dalam rumah kaca [green house] yang dikondisikan mirip iklim topis. Melalui kegiatan pemuliaan [breeding] yang intensif, para ahli tersebut menemukan tanaman kopi unggul yang kemudian disebarkan

ke wilayah jajahan Belanda di Amerika Latin [Suriname] dan wilayah Asia, yaitu Sri Langka. Gubernur Belanda yang sedang bertugas di Malabar [India] membawa tanaman kopi masuk ke Indonesia. Awalnya, kopi ditanam di wilayah Batavia. Karena ekosistem yang tidak cocok, tanaman ini tidak berkembang dan bahkan akhirnya musnah oleh bencana banjir. Tanaman kopi berikutnya, di antaranya berasal dari Sri Langka, dikirim lagi ke Indonesia pada tahun 1699 dan berhasil tumbuh dengan baik. Sejak saat itu, tanaman kopi dibudidayakan secara luas berbagai wilayah Indonesia, khususn

ya di Jawa. Biji kopi hasil panen diekspor ke Eropa oleh perusahaan dagang Belanda, yang dikenal sebagai VOC [Verininging Oogst Indies Company]. Karena nilai ekonomi yang tinggi, VOC terus memperluas areal tanaman kopi di wilayah luar Jawa, antara lain Sumatera dan Sulawesi. Ekstensifikasi tanaman kopi yang sangat luas menjadikan Indonesia muncul sebagai pusat perdagangan kopi terbesar kedua setelah Yaman.

Perancis mengikuti jejak Belanda untuk mengembangkan dan memperluas tanaman kopi ke wilayah belahan dun

ia bagian barat. Dari bahan tanam yang diperoleh dari Belanda, ahli-ahli Perancis melakukan pemuliaan lanjut tanaman kopi di dalam rumah kaca. Pada tahun 1714, Perancis mengirim bahan tanam kopi ke Gujana di Amerika Latin dan kepulauan Martini di wilayah Karibia. Dari kedua tempat tersebut, kopi kemudian menyebar secara besar-besaran ke wilayah Brasil, Kolombia, Kosta Rika dan Meksiko. Selain ke Amerika Latin, Perancis juga mengirim tanaman kopi ke wilayah pendudukannya di Pulau Bourbon [sekarang La Reunion]. Tempat ini dianggap sebagai cikal bakal kembalinya tanaman kopi ke Benua Afrika. Misionaris Inggris memperkenalkan kopi di wilayah Kenya dan menjadikan negara ini sebagai sentra kopi Arabika di Benua Afrika.

Pada tahun 1876an, perkebunan kopi Arabika di Indonesia mengalami serangan penyakit karat daun yang cukup hebat. Sebagian tanaman Arabika kemudian diganti dengan tanaman kopi jenis Robusta. Sesuai dengan namanya [robust=kuat], tanaman kopi Robusta lebih tahan terhadap serangan hama dan penyakit daripada tanaman kopi Arabika. Selain itu, tanaman kopi Robusta bisa dibudidayakan dengan baik di wilayah dataran rendah [Gambar 3]. Tanaman kopi Robustajuga lebih mudah dirawat dan memiliki produktivitas lebih tinggi daripada tanaman kopi Arabika.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.

× WhatsApp